UMAR USMAN 16 B

WE GO BIG OR GO HOME !


Leave a comment

Waktu Menjadikannya Utuh

waktu

Ini bukanlah tentang hujan, senja dan cerita kita. Pun bukan tentang kenangan yang tergilas zaman. Ini adalah tentang sang waktu ketika yang separuh menjadi utuh.

Bit.ly/HarusSukses

Advertisements


Leave a comment

Action: Unsur Pembentuk Kekuatan

Kecerdasan, pengetahuan dan keahlian bukanlah kekuatan, melainkan unsur-unsur potensial pembentuk kekuatan. Hanya dengan tindakanlah unsur-unsur tersebut menjadi berguna dan termanfaatkan.

Sebab pengetahuan dapat dipelajari, pun keahlian dapat dilatih. Namun tindakan, sesungguhnya ia adalah sumber daya yang harus dikeluarkan dari dalam diri sendiri.

#PerpetualLearner
#PembelajarAbadi
#TakeAction

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)


Leave a comment

Empat Era, Empat Masa

Mari sekilas kita tengok perubahan era yang terjadi pada peradaban manusia.

1. ERA BERBURU DAN MERAMU

Pada era ini hanya ada 1 kelompok sosial. Tidak ada si kaya dan si miskin. Pemimpin dan anggota klan hidup setara.

2. ERA AGRARIS
Pada era ini terdapat 3 kelas sosial. Si kaya, si miskin dan kelas menengah.

Si kaya adalah raja dan para bangsawan yang memilih banyak properti dan hewan ternak. Pada era ini, manusia berperang untuk merebut dan mempertahankan wilayah. Sebuah bangsa menjajah bangsa lain untuk menguasai tanah dan segala sumber dayanya.

Sementara itu, si miskin adalah petani yang bekerja di lahan milik negara atau kerajaan. Untuk kemudian membayar pajak karena telah “diizinkan” mengelolah lahan tersebut.

Pada era ini, sangat sulit untuk naik kelas dari miskin ke kelas menengah, apalagi ke kaya. Salah satu cara yang memungkinkan, namun peluangnya sangat kecil, adalah melalui pernikahan.

3. ERA INDUSTRI
Era industri dimulai ketika ditemukannya mesin uap pada tahun 1492. Di era ini, orang kaya bukan lagi mereka yang punya lahan yang luas, ternaknya banyak. Mereka yang kaya adalah mereka yang memiliki pabrik.

Si miskin banyak yang berasal dari kaum buruh pabrik. Dan kelas menengah adalah karyawan pabrik lulusan universitas.

Pada era ini, orang miskin dan kelas menengah bisa naik kelas (sosial). Tapi butuh waktu sangat lama. Bagi rakyat biasa, solusi untuk memperolah kehidupan yang lebih baik adalah sekolah yang rajin, masuk universitas, raih nilai bagus dan mendalat pekerjaan bergaji tinggi.

Banyak yang kemudian mengambil spesialis agar gaji semakin tinggi. Dan mereka biasanya hanya bekerja untuk satu perusahaan sampai pensiun. Dan pihak pabrik memberikan uang pensiunan karena telah mengabdi untuk waktu yang lama.

Pada saat itu, angka harapan hidup lebih rendah dari sekarang. Banyak yang meninggal kurang dari 3 tahun setelah pensiun. Yang artinya beban keuangan yang ditanggung perusahaan tidak terlalu besar.

4. ERA INFORMASI
Era ini dimulai ketika ditemukannya internet. Di era ini, masyarakat kembali terdiri dari 3 kelas sosial. Beberapa ada yang mengelompokkannye menjadi 4 kelas, yaitu:
– Kelas Atas
– Kelas Menengah Atas
– Kelas Menengah Bawah
– Kelas Bawah

Pada era ini, seseorang bisa dengan cepat berpindah ke kelas yang lebih tinggi. Jika di era industri orang butuh puluhan tahun untuk kaya, di era informasi bisa dalam waktu kurang dari 5 tahun.

Dan saat ini, kita tengah berada di Era Konseptual yang akan kita bahas di tulisan selanjutnya.

 

– Komandala “Komando” Putra (Bos Man) –


Leave a comment

Dua Sisi Manusia

Membaca berita penuh kebencian akan membangunkan sisi gelap/ buruk dalam diri manusia.

Dalam diri manusia terdapat dua “karakter”, baik dan buruk. Karakter mana yang akan muncul tergantung karakter mana yang sering Anda “beri makan”. Dan berita penuh kebencian adalah makanan bagi karakter buruk, sisi gelap Anda.

Seorang psikolog bernama John Bargh merancang sebuah eksperimen yang disebut “priming experiment”.

Ia membagi mahasiswa menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta menyusun beberapa kalimat acak dengan menggunakan kata-kata positif. Contoh:

Soal: Selalu–ramah–pada–Rian–semua orang

Jawab: Rian selalu ramah pada semua orang.

Dan kelompok kedua menyusun kalimat acak yang memuat kata-kata kasar.

Setelah menjawab soal, satu per satu diminta masuk ke kantor menemui panitia eksperimen untuk menanyakan soal berikutnya.

Di depan pintu kantor, beberapa orang (panitia) sengaja berdiri menghalangi pintu masuk sambil pura-pura sibuk ngobrol satu sama lain. Mereka sengaja tidak peduli pada mahasiswa yang datang untuk mengetahui bagaimana respons mereka, bagaimana kata-kata mempengaruhi alam bawah sadar manusia.

Akankah mereka menyela pembicaraan? Apakah kelompok yang telah dihujani kata-kata kasar menjadi lebih tidak sabar? Sebaliknya, apakah kelompok yang diberi kata-kata positif menjadi lebih sabar? Sebagai informasi, mahasiswa tersebut adalah mahasiswa New York University. Dan orang New York bukan orang yang terkenal dengan kesabarannya.

Sebelum eksprerimen dimulai, Bargh dan timnya diizinkan pihak kampus untuk hanya pura-pura sibuk maksimal 10 menit per 1 mahasiswa.

Bagaimana hasilnya? Mahasiwa kelompok kedua semuanya menyela pembicaraan rata-rata setelah 5 menit. Bahkan ada yang tak henti-hentinya bertanya ke mana ia harus menyerahkan lembar jawabannya.

Sementara itu, 82% mahasiswa yang menerima kata-kata positif tidak menyela sama sekali dalam waktu 10 menit. Mereka tetap dengan sabar menunggu.

Pertanyaannya, seberapa sering Anda membaca berita yang isinya penuh amarah, penuh kebencian?

Apa jadinya kalau setiap hari Anda mengonsumsi berita negatif yang semakin hari semakin terbenam di pikiran bawah sadar Anda yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku Anda?

Sebagai informasi, pemilik website penuh kebencian itu memperoleh banyak uang dari banyaknya pengunjung di website-nya. Semakin banyak yang datang, semakin banyak yang pikirannya teracuni, semakin kaya pula mereka.

Anda rela diperlakukan demikian?

Catatan: Sebuah renungan untuk saya sendiri dan kita semua.

#NasihatDiri

– Komandala “Komando” Putra (Bos Man) –


1 Comment

Military Camp : Aye Sir !

Penulis : Fahmi Trimerdati Ramadan/ Boss Tri

Di persimpangan saya berdiri antara melangkah atau mundur karena saya tahu 2 hari ke depan akan terasa berat, menguras fisik dan mental. Tapi pada kenyataannya saya hanya punya satu pilihan : MELANGKAH!. Dan perjuangan kami di markas Yonzikon 13 dimulai

Pagi itu setelah turun dari truk TNI, kami, mahasiswa Umar Usman segara berkumpul di lapangan dan dibagi dalam beberapa kelompok untuk dilatih baris berbaris. Sebelumnya kami sudah diajarkan yel yel yang akan dipraktikkan nanti. Sore harinya kami berkumpul untuk diperkenalkan pada senapan berjenis Pindad SS1, bagaimana merakit dan memasangnya kembali dan beberapa mahasiswa diberikan kesempatan untuk mencoba menggunakan senapan tersebut. Beberapa Boss sangat antusias mencoba senjata tersebut kecuali saya yang tak terlalu menyukai kekerasan. Hingga kegiatan itu berakhir sebelum maghrib.

Setelah maghrib kami melanjutkan dengan pentas seni dari tiap tiap kelompok besar. Kelompok kami sebelumya sudah memutuskan untuk menampilkan tari kecak ala kelompok 16. Saya kebagian menjadi seorang penari utama dan ditemani Boss Ded dari 16a. Saya mengapresiasi hasil kerja keras teman-teman yang menurut saya berbeda dibanding kelompok-kelompok lain. Im really proud of you guys. Malam semakin pekat dan acara kami pun berakhir. Saya tidak tahu pasti jam berapa hari itu, yang saya tahu kami benar-benar kelelahan.

Suara senapan membangunkan kami ditengah lelap tidur kami. Dalam sekejap kami sudah harus berkumpul di lapangan dan saya tahu it’s jurit malam time! kembali kami dibagi dalam beberapa kelompok dan harus melewati beberapa pos dengan tantangan yang berbeda beda. Menjelang subuh seluruh tim sudah menyelesaikan tantangan dan bergegas mempersiapkan diri menuju Masjid untuk solat subuh. Setelah itu kami melakukan beberapa aktifitas sampai siang hari setelah itu kami melakukan tantangan terakhir yakni halang rintang. Semua kelompok besar bergegas menuju tkp dan diberikan penjelasan untuk melalui rintangan-rintangan tersebut. Kelompok demi kelompok telah menyelesaikan seluruh rintangan. Hingga tiba giliran kami. Semua anggota sangat bersemangat melakukan halang rintang tersebut hingga kami mencatatkan waktu dua menit tiga puluh detik. Saya rasa kami mencatat waktu tercepat dan saya kembali bangga dengan kawan-kawan saya ini. Setelah itu kami membersihkan diri untuk bersiap-siap upacara penutupan. Setelah upacara selesai kami pun pulang kembali diantar mobil truk TNI.

Banyak pelajaran penting yang saya dapatkan dari tantangan tersebut namun yang paling membekas dari ingatan saya adalah tentang kedisiplinan.


1 Comment

Dompet Pengusaha, Jiwanya Tentara

Saya sudah menunggu-nunggu kegiatan military camp ini sejak saya belum resmi jadi mahasiswa Umar Usman. Begitu tahu ada military camp waktu pengisian KRS, saya sudah membayangkan bagaimana serunya acara ini.

Dan di hari H, saya begitu antusias sehingga datang ke kampus lebih awal. Lebih awal dibanding keempat truk pengangkut personil Yonzikon 13/KE tiba di depan kampus. Dan saya pun segera berkenalan dengan beberapa kopral dari kesatuan zeni konstruksi tersebut.

Setibanya di Jagakarsa, lokasi di mana markas Yonzikon 13/KE berada berada, kami segera diajari yel-yel untuk kemudian disiapkan untuk mengikuti upacara pembukaan sekitar jam 08.30.

Setelah itu, kami diajak keliling melihat beberapa area di markas tersebut. Lalu dilanjut dengan latihan PBB dan pengenalan senjata api hingga sore hari.

(Bersambung)

Penulis: Komandala Putra, S.Pd., S.Hum. (Bos Man)


1 Comment

Zona madina challenge

Zona madina challenge adalah event yang di buat oleh kampus umarusman untuk mahasiswa dan mahasiswinya. Pertama gue akan jelaskan persturannya, kami berkumpul pada jam 9, satu kelompok terdiri dari lima orang, kami di beri mineral water dua kardus dan roti 20 buah, dari jakarta kami harus pergi ke parung bogor dari hasil penjualan kedua benda tersebut, kami tidak di perbolehkan membawa uang dan handphone, wajib membawa kartu tanda penduduk. Pertama kami berdiskusi bagai berapa harga untuk air dan roti, lalu kami mulai berjalan menawarkan barang tersebut. Di jalan gua dan yang lain berpencar dua menawarkan jasa penyebar brosur lalu gua dan teman gue berjualan berdua, kami menjual kepada anak smp tukang ojek dan polisi. Setelah roti habis terjual dan tersisa air mineral, kami menuju titik kumpul dan menuju depok dengan naik kereta.

Setelah sampai di depok kita baru sadar ternyata kita terlewat satu stasiun, akhirnya kami kembali naik kereta dan sampai di depok. Setela sampai depok kami menuju terminal untuk naik angko menuju parung. Di terminal ketua kami berdiskusi dengan abang preman, setelah basa-basi dan tawar menawar, bapak ketua gagal berdiskusi akhirnya kita mencari angkot yang lain, tak lama kemudian kami berrangkat dengan angkot yang lain. Di parung kami pun lanjut berjualan air minum yang belum habis terjual, kelompok kami sempat terpencar dan tak ada koordinasi. Waktupun terus berjalan semetara kami belum berkumpul untuk menuju zona madina, setelah 30 menit kami semua berkumpul dan langsung mencari kendaraan. Kami pun menaiki mobil pickup dan kami sadar satu anggota kami tertinggal, kami panik dan beruntung dia dapat di temukan. Tidak lama kemudian kami telah sampai di zona madina dan kami adalah kelompok keempat yang sampai. Ini adalah pengalaman gue yang akan gue inget, di event ini gue melatih kesabaran dan kemandirian gue.

– Bos Hanif –