UMAR USMAN 16 B

WE GO BIG OR GO HOME !


Leave a comment

Memaafkan: Membuka Masa Depan

marah

Hanya dengan memaafkan, kita bisa membuka satu-satunya jalan untuk berpikir kreatif tentang masa depan. Sebab saat menyimpan dendam, energi kita akan terkuras untuk memikirkan orang tersebut. Kita terus mengingat-ingat kesalahannya tentang “bagaimana” kita disakiti. Yang sesungguhnya, kita sendiri yang mengizinkan diri kita sakit. Dan dia yang di sana mungkin sama sekali sudah lupa atau tidak peduli.

Maka jika masa depanmu masih pandang. Jika cita-citamu untuk membanggakan serta memuliakan orangtua teramat besar, maka pergilah, terbanglah menuju masa depan tersebut. Bukan merangkak ke belakang. Sebab hanya dengan melepas semua beban yang memberatkanlah kita bisa lepas landas menuju zona impian. Zona ketika semua harap dan ingin menjadi kenyataan.


Leave a comment

Galau to Great

Buku yang saya jadikan referensi dalam menulis buku “Galau to Great: Kemarin Galau, Besok Berkilau”.

The 7 Habits of Highly Effective People — Stephen Covey

Mater Your Mind Design Your Destiny — Adam Khoo & Stuart Tan

The Cashflow Quadrant — Robert Kiyosaki

The Magic of Thinking Big — David J. Schward

The Power of Habit — Charles Duhigg

The Law of Attraction — Michael J. Losier

David and Goliath — Malcolm Gladwell

The Savior — Ustad Andre Raditya

Soal buku yang terakhir ini, saya sangat tercerahkan dengan konsep “6 Dimensi Misi Hidup”-nya sejak pertama kali baca buku ini Desember 2015 lalu. Terima kasih banyak, Ustad.

Insyaallah minggu depan buku ini sudah masuk tahap editing. Yang insyaallah juga pembahasannya renyah dan mudah dipahami remaja usia 14-19 tahun. Juga dewasa muda dengan usia 20-27 tahun.

Catatan: dari mantan pegalau, oleh mantan pegalau, untuk siapa saja yang masih sering dihinggapi galau. Yang saya doakan semoga masa depan semuanya semakin berkilau.

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)

http://bit.ly/HarusSukses


Leave a comment

Prinsip Kuno yang Terus Meracuni Kita

Sekarang bukan lagi zamannya berprinsip “dapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan usaha dan pengorbanan sekecil-sekecilnya”. Itu prinsip kuno yang jadi salah satu penyebab banyak orang berakhir sebagai orang rata-rata. Yang saya percaya bahwa kamu tidak ingin menjadi orang rata-rata yang hidupnya biasa-biasa karena kamu berhak untuk jadi luar biasa.

Faktanya, mereka yang dulu dan kini berada di puncak kejayaan ternyata melakukan hal yang sebaliknya. Mereka mengerahkan usaha semaksimal mungkin agar dapat menghasilkan sesuatu (produk / jasa) sebaik dan sebermanfaat mungkin. Agar bisa diterima dan digunakan sebanyak mungkin orang di dunia.

Seperti Bill Gates dengan Microsoft serta Mark Zuckerberg dengan facebook-nya. Siapa yang berani berkata bahwa karya mereka tidak penting dan tidak bermanfaat?

Contoh lainnya adalah penulis buku. Kamu menulis buku itu satu dengan sebaik-sebaik mungkin, dengan usaha semaksimal mungkin. Maka uang akan menjadi cerita lain.

Begitu pula dengan mereka para kreator produk digital. Mereka berusaha SEMAKSIMAL mungkin, begadang untuk membuat desain semenarik mungkin, membuat coding secanggih mungkin. Dan ketika selesai dan terjual, mereka layak mendapatkan apa yang mereka usahakan.

Catatan: ini salah tulisan di draft buku “Galau to Great: Kemarin Galau, Besok Berkilau”. Doakan semoga segera beredar bukunya, beredar pula manfaatnya. Aamiin.

Terima kasih untuk guru saya, Wakil Rektor Kampus Bisnis Umar Usman yang menyemangati saya untuk melanjutkan tulisan saya yang sempat terhenti. Yang insyaallah dengan buku ini, amal jariyah saya jadi mengalir tiada henti.

screenshot_2016-10-12-05-26-20-1

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)

http://bit.ly/HarusSukses


Leave a comment

Sistem Pendidikan Dunia dan “Robot” Yang Dihasilkannya

Barusan nonton video inin tentang seseorang yang menuntut sistem pendidikan di pengadilan https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=569410533248648&id=363765800431935

Dan memang? Sistem pendidikan diciptakan pada Era Agraris dan sebagiannya diperbaharui pada Era Industri.

Realitanya, kita tak hidup di kedua era itu lagi. Bahkan Era Informasi telah kita lampaui. Kini kita hidup di Era Konseptual. Era ketika kreativitas begitu sangat dihargai, begitu sangat memberi arti.

Maka saran “bersekolahlah agar dapat nilai bagus, lalu cari pekerjaan bergaji tinggi atau jadi pegawai negeri biar nanti dapat uang pensiun” tak relevan lagi. Dan jika ada yang memilih jalan ini, biarlah itu jadi pilihan pribadi. Sebuah pilihan, namun bukan satu-satunya pilihan.

Sebagai tambahan, ketika sepasang orangtua bisa membedakan yang mana cara / jalan, dan yang mana tujuan, tentu orangtua takkan pernah mau anaknya untuk menjalani hidup yang dipaksakan.

Menikahkan putri tercinta dengan anak pejabat adalah jalan; kebahagiaan putrinya adalah tujuan. Dan jika kebahagiaan putrinya adalah tujuan, menikah dengan siapapun yang bisa membuat bahagia seharusnya sah-sah saja.

Jadi menjadi PNS adalah jalan; kaya dan berkah adalah tujuan. Berarti jadi pengusaha atau karyawan non-PNS seharusnya sah-sah saja.

Sebagai penutup, buku “Galau to Great: Kemarin Galau, Besok Berkilau” sedikit membahas mengenai hal ini. Sang penulus melihat banyaknya pemuda yang galau terhadap masa depan, termasuk di antaranya galau terhadap pekerjaan. Tentu disertai dengan solusinya insyaallah.

Untuk pemesanan, silakan hubungi … oh ya, bukunya sedang dalam proses penulisan. Mohon doa agar segera selesai. 😀

Dan buku keren lainnya yang sangat layak dibaca adalah buku Pengusaha Tangguh karya Mr. Joss.

Screenshot_2016-10-12-05-26-20-1.png

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)


Leave a comment

Kebijaksanaanmu, Bermurah Hatilah terhadapnya

Kamu bisa membantu dunia jadi lebih baik dengan jalan membantu dan memfasilitasi orang lain untuk bertumbuh. Sebagai pembelajar abadi, kamu punya kebajikan untuk disebarkan kepada sebanyak mungkin orang. Karena merupakan anugerah ketika kita bisa membagikan apa yang kita ketahui untuk membantu orang lain. Sebab merupakan pemberian istimewa bagi mereka yang menerimanya. Karena ukuran kesuksesan seseorang adalah seberapa banyak orang lain yang ia bantu meraih sukses.

Catatan: Tiba-tiba menemukan tulisan ini di buku catatan. Saat saya sedang asik-asiknya menulis buku pertama saya. Semoga buku “Galau to Great: Kemarin Galau, Besok Berkilau” terbit bulan Februari 2017 nanti. Aamiin.

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)


Leave a comment

Teaching Is Sharing, Sharing Is Caring

Empat level pemberian menurut Arvan Pradiansyah dalam bukunya The 7 Laws of Happiness.

Dari rendah ke tinggi:

1. Uang

2. Perhatian

3. Kesempatan

4. Pemberdayaan (empowerment)

komandala

Dan inilah foto hari Jumat 7 Oktober lalu waktu sharing, belajar bareng, dengan kawan-kawan Kampus Bisnis Umar Usman. Insyaallah tiap Jumat pagi kita belajar rutin.

Dengan mengajar, kita memberi perhatian.

Dengan mengajar, kita memberi kesempatan agar orang lain bertumbuh untuk terus maju.

Dengan mengajar, kita melakukan pemberdayaan agar orang lain mampu mencapai apa yang terbaik bagi kehidupan.

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)

#teaching #sharing #englishclass #anakmudebelitong #belitung #belitong#belitungtimur #belitongtimur #dutawisata #sharingiscaring

Continue reading


Leave a comment

Efek Pygmalion dan Mengapa Kita Harus Memberi Pujian

Pernahkah kamu mendengar efek Pygmalion? Adalah Robert Merton, seorang professor sosiologi di Colombia Unversity yang meneliti fenomena psikologis ini.

Penelitian ini melibatkan seorang guru yang mendapat instrukti untuk mengajar sebuah kelas yang terdari dari murid-murid berbakat selama satu tahun ke depan.  Satu hal yang tidak diketahui sang guru adalah bahwa para murid ini sebenarnya bukanlah anak yang berbakat. Sebaliknya, saat dites IQ, mereka semua termasuk siswa dengan IQ. Bahkan memiliki masalah perilaku. So, apa yang terjadi selanjutnya?

Saat guru tersebut mulai belajar, murid-murid di kelas tersebut tidak mau belajar dan tidak mau memberi respons. Bahkan mereka berperilaku buruk. Namun karena sang guru meyakini bahwa murid yang ia ajar adalah murid berbakat dengan IQ tinggi, ia pun berpikir bahwa masalahnya bukan pada muridnya. Tapi pada dirinya sendiri. Ia bertanggung jawab atas perilaku buruk dan ketidaktertarikan para muridnya terhadap pelajaran.

Ia beranggapan bahwa mungkin cara mengajarnyalah yang kurang menarik bagi para siswa yang cerdas dan berbakat ini. Lantas ia pun melakukan eksperimen dan beberapa kali mengganti metode mengajarnya. Ia pun memotivasi para siswa, membangkitkan rasa keingintahuan mereka dengan berbagai permainan dan aktivitas, serta benar-benar membina mereka. Semakin sang guru memperlakukan mereka sebagai siswa yang berbakat, mereka pun semakin memberikan respon; juga antusias.

Di akhir tahun pelajaran, nilai di rapor mereka melesat tinggi! Dan ketika IQ mereka kembali dites, rata-rata terjadi peningkatan 20-30 poin. Guru tersebut berhasil membuat siswa dengan IQ rendah menjadi siswa berbakat karena sang guru meyakininya demikian.

Pertanyaannya, seberapa seringkah guru di sekolah menganggap dam memperlakukan siswa ber-IQ dan nakal sebagai siswa yang tidak punya masa depan? Sebaliknya, apakah Anda merasa bahwa guru lebih peduli dan lebih banyak mengajar siswa yang sudah pintar dari sananya? Ketika guru lebih fokus mengajar murid yang pandai dan cenderung mengabaikan mereka yang kurang pandai, maka EFEK MATIUS pun terjadi!

Update:

Inilah alasan mengapa saya sering memberikan pujian kepada orang lain. Pujian yang tulus dan benar tentunya, bukan mengada-ada. Karena saya lebih suka melihat sisi baik dari setiap orang. Dan dengen mengatakan,”Kamu hebat dalam hal …” berarti saya telah menembalkan keyakinan dalam dirinya bahwa dia itu hebat. Dan semakin tebal keyakinan itu terikat dalam jati dirinya, semakin hebat pula orang tersebut secara absolut.

Penulis: Komandala “Komando” Putra (Bos Man)