UMAR USMAN 16 B

WE GO BIG OR GO HOME !

SUDAH BERARTIKAH IBADAHMU

Leave a comment

Cerpen : Boss Dwi

Dalam benaknya masih ingat betul bagaimana dua tahun lalu memutuskan untuk pergi merantau meninggalkan kampung halaman dan dua wanita yang paling dicintainya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

“Aku pamit ya, Bu,” ucapnya berat dengan mata yang berkaca-kaca.

Ibunya terisak, bahkan sejak pertama kali anaknya mengatakan ingin merantau. Setiap malam perempuan paruh baya itu akan menangis di sepanjang tahajjudnya, berdoa agar Allah menguatkan hatinya merelakan anak lelaki satu-satunya pergi jauh meninggalkannyanya.

“Sesampainya aku di kota, pasti aku akan kabari ibu secepatnya, aku janji,” kata anaknya lagi, mencoba menghibur dengan sederet kalimat yang dirasa bisa menenangkan hati ibunya.

Lengkung di bibir ibunya pun muncul, meski agak dipaksakan. “Jaga solat lima waktumu, pelihara puasa senin-kamis, jangan lupakan waktu dhuha, dan bangunlah ketika orang-orang tertidur lelap, karena saat itu Allah begitu dekat dengan hamba-Nya,” nasihatnya sambil sesekali menyeka air mata. “Doa ibu selalu menyertaimu, Nak.”

Pemuda itu memeluk ibunya. Lantas menoleh kepada seorang gadis sembilan belas tahun—hanya satu tahun lebih muda darinya, rambutnya panjang sebahu, begitu hitam dan tampak sehat, kebiasaannya mengoleskan pohon urang-aring yang ditumbuk halus membuat rambutnya tampak elok dan memesona.

“Aku pamit ya, Nis.”

Gadis itu mengangguk pelan, dalam hatinya masih belum bisa merelakan lelaki yang begitu dicintainya.

“In Syaa Allah, jika aku sudah berhasil, secepatnya aku akan kembali dan melamar kamu, aku janji.”

Mendengar kata-kata itu Nisa semakin tersenggal, air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya mengular membasahi pipinya.

“Aku titip ibu ya, Nis. Jaga ibu baik-baik.” Pemuda itu balik kanan, melangkah mantap. Keinginannya untuk merantau begitu kuat, semua impiannya seakan sudah di depan mata.

“Hati-hati!” teriak Nisa ketika pemuda itu sudah melangkah jauh membawa tas yang di cangklongkan di bahu kanannya.

Namun, semua itu seakan hanya menjadi memori usang yang lambat laun menggerus ingatannya. Pemuda kampung yang dulu ringkih dan lusuh, kini menjelma menjadi seorang jutawan. Kemeja bersih, berdasi, jika ia berjalan seperti ada kilatan cahaya dari sepatu pantofel yang begitu hitam dan kinclong hingga debu pun harus berpikir seribu kali untuk hinggap di sepatunya. Orang-orang yang ia lewati akan menunduk hormat tanpa paksaan, jika itu para wanita maka mereka akan mengerutu dalam hatinya.

“Gila ganteng abis, mau dong jadi istrinya.”
“Subkhanallah … udah kaya, soleh, ganteng lagi, ya Allah sempurna.”
“Pak mau dong jadi istrinya, yang kedua juga nggak apa-apa, beneran deh.”

Dan masih banyak pikiran-pikiran yang menjerit-jerit jika melihat sosoknya datang dengan begitu hangat, ia ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali officeboy sekalipun. Orang-orang yang masuk ke dalam ruangannya akan mendapati satu kata yang diidam-idamkan sebagian orang terpajang di atas mejanya “Manager” dengan warna kuning emas yang mengkilau.

***
Tok tok tok!
“Permisi, Pak.” Seorang perempuan muda datang dengan setumpuk berkas.

Yang dipanggil “Pak” baru saja menyelesaikan rakaat terakhir solat dhuhanya.

“M-maaf, Pak, saya nggak tahu kalau-“

“Sudah, nggak apa-apa,” katanya memotong. “Ada apa?” tanyanya kemudian sambil melipat sajadah, lantas duduk di kursi kerjanya.

Wanita yang memakai rok di atas lutut itu mengangguk sungkan, untuk kemudian menyodorkan sesuatu. “Ini ada surat buat Pak Asep.”

“Surat?” Asep meraih surat itu, di bagian depan tampak satu kalimat yang membuatnya langsung tahu siapa pengirimnya “Untuk anaku tercinta Asep.”

Sudah dua tahun ini ibunya terus mengirimkan surat, hampir dua minggu sekali , terus mengabari jika keadaannya di kampung baik-baik saja dan sederet pesan agar anaknya jangan pernah meninggalkan solat, juga nada-nada yang menginginkan anaknya itu segera pulang ke kampung. Di dalam kardus yang ia simpan di dalam laci kerjanya terdapat tumpukan surat selama dua tahun itu, tapi Asep tak pernah lagi membalasnya. Surat terkhirnya untuk sang ibu adalah ketika ia mengabari bahwa dirinya sudah mendapatkan pekerjaan di kota, di perusahaan yang kini ia pimpin. Dulu hanya sebatas karyawan biasa, namun tekadnya yang kuat membuat dirinya bekerja keras hingga begitu disegani dan kini semua mimpinya terwujud.

“Sudah tahu ada hape, masih aja ngirim surat,” gumamnya pelan, lantas lansung memasukan surat di tangannya itu ke dalam laci. “Coba kamu bayangkan Sis, setiap minggu selalu saja mengerimkan surat, minta saya buat pulang ke kampung. Dia pikir saya punya banyak waktu apa,” keluhnya kepada Siska, sekretaris pribadinya.

Siska sedikit terkejut dengan kata-kata atasanya itu. “Mungkin ibunya Pak Asep hanya rindu, ingin melihat Bapak,” ucapnya pelan begitu hati-hati.

“Saya tahu, tapi kan sekarang ini bukan zaman batu lagi. Kenapa nggak nelepon aja, padahal saya sudah kasih nomor hape jadul saya yang dulu, sewaktu pertama kali kerja di sini … ah, sudahlah lupain aja, nggak penting.”

“Oh ya, Pak. Ini ada surat pemberitahuan dari para investor kita.” Siska memberikan berkas-berkas yang ada di tangannya.

“Lho, apa ini? bukannya kita belum ngajuin apa-apa ya?” tanya Asep keheranan.

“Itu investor lama kita, Pak. Mereka … ingin mencabut seluruh saham yang ada, Pak.”

“APA?” Asep terperanjat, berdiri, lantas menyibak satu per satu lembar berkas di tangannya dengan cepat. “Nggak mungkin, ini nggak mungkin Sis!”

“Tapi memang seperti ini kenyataannya, Pak,” katanya pelan. “Kekalahan kita di beberapa Tender, membuat para investor semakin ragu dengan kinerja perusahaan kita.”
Asep terhempas di kursi kerjanya. “Ini nggak mungkin!”

Manager perusahaan itu masih tergugu menatap setumpuk berkas yang ada di atas mejanya, bahkan tercerai berai dari map yang membungkusnya rapi. Beberapa lembar surat pemberitahuan itu seolah vonis dokter yang menunjukan bahwa sebentar lagi ia akan mati.

***

Solat jum’at saat itu begitu ramai, shaf-shaf penuh sesak. Meski mesjid memiliki dua lantai, tempatnya yang persis di pinggir jalan membuat masjid mudah dikunjungi dari berbagai arah. Khotib memulai khotbah, jama’ah begitu khusyu mendengarkan, sebagian ada yang tertidur, sebagian lainnya masih ada yang sibuk dengan ponselnya. Kotak-kotak amal digeser dari satu orang ke jama’ah yang lain.

Di shaf paling depan, mengadang persis dengan mimbar, Asep duduk sila sambil berderai air mata. Apa yang salah? Dhuha ia tidak tinggalkan, tahajjud selalu dilaksanakan, solat lima waktu tak pernah absen, puasa senin-kamis ia kerjakan, tapi Allah seakan berlaku tidak adil terhadap dirinya. Semua perintahnya selalu ia jalankan bahkan sunnah pun tak lepas dalam hari-harinya. Sementara Asep masih terus bertanya-tanya dalam benaknya, iqomat dikumandangkan. Imam memberi komando agar merapatkan shaf. Takbir. Hening, semua jama’ah begitu khusyu, hanya suara isak seseorang yang terengar lirih di barisan depan.

Selepas solat dan doa, Asep menunggu sang imam menyelesaikan solat sunnahnya. Begitu banyak pertanyaan yang sudah mengedap dalam otaknya. Apa yang salah?

“Assalamu’alaikum,” seru Asep saat sang imam baru saja menyelesaikan solat sunnahnya. Masih duduk di sajadah berwarna hijau gelap.

Sang imam menoleh. Sudah berumur, dari jenggot putih dan garis-garis kerut itu Asep bisa menebak jika usianya lebih dari enam puluh lima tahun, tapi tidak sedikit pun mengurangi pancaran kharismanya dan kewibawaan seseorang yang berilmu.

“Wa’alaikumussalam.”

“Maaf mengganggu waktu Pak Kiayi, tapi saya mohon … saya benar-benar ingin menanyakan sesuatu.”

“Tafadhol, Nak … selagi orang tua ini bisa menjawab insyaa Allah,” katanya sambil tersenyum.

“Karir saya benar-benar hancur, jabatan, fasilitas perusahaan, kepercayaan, semuanya ludes hanya dalam waktu satu hari, Pak Kiayi. Padahal saya tidak pernah melanggar perintah Allah, bahkan saya menjalankan semua perintahnya dari yang wajib sampai yang sunnah pun saya kerjakan. Tapi kenapa Allah seakan menghukum saya seperti ini?”

“Innalillah … Allah tidak pernah menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya, Nak.”

“Saya tahu, kalimat itu sudah sering saya dengar dari saya kecil. Tapi ini tidak adil buat saya. Kenapa Allah begitu tega mengambil semua yang saya miliki begitu tiba-tiba, padahal saya sudah menjalankan semua perintah-Nya, saya korbankan waktu saya untuk menjalakan sunnah Rasul-Nya, tapi Allah malah memberi ujian yang tidak masuk akal sama sekali untuk saya.”

Orang tua di hadapannya hanya tersenyum seraya mengangguk-angguk.

“Gimana Pak Kiayi? Di mana keadilan yang selalu Allah firmankan?”

“Kamu sudah nikah?” tanya sang kiayi.

“Belum,”

“Maaf, dosa apa yang masih kamu lakukan sehingga semua amal yang kamu kerjakan seakan tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah?”

Asep cukup terkejut dengan pertanyaan itu, sambil mulai berpikir dosa apa yang mungkin tidak sengaja ia lakukan. Lima menit berpikir, ia merasa tidak memiliki kesalahan apa-apa. Sebagai seorang manager, ia begitu ramah kepada semua karyawannya tanpa membeda-bedakan sedikit pun.

“Perasaan saya nggak ada Pak Kiayi.”

Kiayi di hadapannya tertawa pelan. “Jangan memakai perasaanmu, Nak. Tapi pikirkan perasaan orang lain yang ada dekat denganmu.”

“Maksudnya?”

“Kamu pasti tahu maksudnya,” kata sang kiayi, lantas berlalu minggalkan Asep yang masih tercenung menatapnya.

***

Asep sangat mengenali gadis yang baru saja lewat, tapi ada sesuatu yang aneh dari gadis itu.

“Nis! Nisa!” seru Asep.

Benar rupanya, gadis itu menoleh, gelagatnya begitu terkejut melihat Asep yang tiba-tiba kembali ke kampung halamannya, dan kini lelaki yang dulu penuh janji manis itu ada di hadapannya.

Dengan tergopoh-gopoh Asep menghampiri Nisa. “Kamu sehat?”

“Ngapain kamu ke sini?”

“Kok gitu jawabnya, bukannya seneng aku udah pulang.”

Nisa tersenyum getir. “Seneng? Setelah kamu nggak pernah ada kabar selama dua tahun! Lalu tiba-tiba kamu dateng lagi, kamu pikir aku seneng, hah! Nggak sama sekali!”

Asep menunduk, bagaimanapun apa yang di katakan Nisa memang sepenuhnya benar, ia berhak marah, kecewa, bahkan mungkin tidak perlu memaafkan lelaki yang ada di hadapannya kini dengan wajah pucat dan pakaian lusuh.

“Jadi … itu anakmu?” pandangan Asep menangkap sosok bayi yang ada di dalam gendongan Nisa.

“Ya.”

“Selamat ya, semoga kalian bahagia,” tukas Asep tertahan.

“Makasih!” Nisa melangkah terburu-buru, seperti mengisyaratkan jika pertemuan itu sungguh-sungguh tidak ia harapkan.

“Nis! Kamu lihat ibu!” seru Asep, sementara di kejauhan Nisa tampak menghentikan langkahnya. Berbalik. Pandangannya begitu menindas kedua bola mata Asep. Mengayunkan kakinya mendekati lelaki itu.

“Coba lihat kebelakang rumah, biasanya ibu suka menunggu kamu di sana hingga sore hari. Ibu masih menganggap kalau kamu hanya pergi ke kebun dan akan pulang sorenya.”

Tanpa pikir dua kali, Asep langsung meninggalkan Nisa, ia sampai tidak sadar perubahan cara bicara Nisa yang menjadi lembut.

“Bu … Bu. Asep pulang, Bu!” Asep merayapi dinding samping rumahnya yang terbuat dari anyaman bilik bambu yang sebagian sudah dimakan rayap dan penuh tanah, terus beringsut sampai tiba di halaman belakang rumahnya.

Assalamu’alaikum
Sep, di setiap waktu ibu nggak akan pernah lupa berdoa buat kamu. Semoga Asep bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, sehat terus. Kalau di kota kamu sudah menikah, semoga menjadi keluarga yang bahagia, punya anak-anak yang soleh dan solehah, berbakti pada orang tuanya. Maafkan ibu, Nak. Ibu selalu memaksa Asep buat pulang, ibu cuma rindu. Rindu kamu yang dulu selalu ada di samping ibu, rindu mendengar kamu melantunkan ayat suci, rindu mendengar kamu adzan di musolla kampung, ibu cuma rindu, Nak.

Tapi kalau kamu sudah baca surat ini, Insyaa Allah ibu sudah ikhlas kamu menetap di kota, ibu ikhlas—kamu mengejar semua cita-cita, ibu nggak akan maksa-maksa kamu pulang lagi, Nak.
Ibu hanya berpesan: Jaga solat lima waktumu, pelihara puasa senin-kamis, jangan lupakan waktu dhuha, dan bangunlah ketika orang-orang tertidur lelap, karena saat itu Allah begitu dekat dengan hamba-Nya. Jangan khawatirkan ibu, di sini ibu sudah ada yang menjaga. Doa ibu selalu menyertai langkahmu, Nak.
Wassalamu’alaikum.

Jadi inilah maksud dari isi surat yang tempo lalu sempat di abaikannya. Tumpukan tanah merah yang masih basah, wewangian khas bunga-bunga yang bertabur rapi di atasnya begitu menyeruak, menyesakkan dada Asep.

“Bu ….” Katanya lirih, memandang papan berbentuk segitiga di ujungnya bertuliskan nama sang ibu. Lantas tersungkur memeluk tumpukan tanah merah itu, meraung-raung seperti anak macan kehilangan induknya, tangisannya memekik begitu memilukan hati.
“Ibu!!!”[]

Nb :
• Sebagaimana orang bijak pernah mengatakan, “Biar pun solatmu beribu-ribu rakaat, sedekahmu berjuta-juta rupiah, hajimu berkali-kali, tapi saat kau gores hati ibumu, Syurga bukan milikmu.”

Ridhollah fii ridhol walidain wa sukhtullah fii sukhtil walidain.

*Boss Dwi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s