UMAR USMAN 16 B

WE GO BIG OR GO HOME !

ISLAM BUKAN AGAMA YANG PALING BENAR?

Leave a comment

Sebuah Cerpen

Para jamaah begitu khusyuk mengikuti gerakan imam. Ruku, sujud, sampai tassyahud akhir dilaksanakan dengan tuma’ninah penuh kepasrahan kepada San Pencipta. Iyyaa kana’budu waiyyaa kanasta’iin. Imam berusia lebih dari enam puluh tahun dengan rambut yang mulai putih sempurna sempat memimpin doa setelah salam. Suaranya lirih, terbata karena gemuruh di dada yang kemudian mengalirkan setetes bening dari ujung matanya. Para jamaah yang sebagian besar hanya mengamini saja tanpa tahu artinya pun tetap terisak. Benar sebagaimana orang-orang bijak mengatakan ‘apa yang keluar dari hati, ia akan sampai ke hati’.

Namun, saat orang-orang larut dalam tangisannya, segerombol hentakan langkah kaki meramaikan pelataran masjid, lantas bersorak-sorak seakan di hadapan meraka adalah sarang para penjahat yang sudah terangkap basah dengan setumpuk bukti yang tak terbantahkan lagi.

“KELUAR! Keluar kau bajingan! Jangan hanya bisa bersembunyi di balik jubah putih kau lelaki tua!”

Sontak para jamaah yang lain menoleh, memincingkan mata menatap sekelompok orang-orang bertato dengan berbekalkan parang, celurit, samurai, balok kayu dan juga batu-batu besar yang mereka kepal erat-erat.

“Keluar kalian para penyembah iblis! Merasa diri paling benar!” teriak satu orang yang maju paling depan, pria tinggi besar, rambut gondrong dan membawa samurai sepanjang satu setangah meter di tangan kanannya.

“Keluar kalian! Atau kami hancurkan tempat ini!” sahut yang lain.

Di dalam masjid, para jamaah hanya mampu menatap takzim dengan penuh ketakutan. Memaksa jantung memompa darah lebih cepat dari biasanya. Merapat di sudut dinding masjid paling depan seraya saling tatap dengan wajah pucat pasi. Wajar, meski jumlah jamaah lebih banyak, tapi mereka hanya berbekal peci dan sarung yang mereka linting setinggi mungkin, jaga-jaga jika ada kesempatan untuk melarikan diri.

Hanya imam masjid yang masih khusyuk menyelesaikan doanya bersama anak muda yang sedari tadi masih terisak mendengarkan doa-doa yang ia amini. Sementara di luar, sekelompok orang-orang itu terus mengumpat, mengutuk bahkan terus mengancam akan mengahncurkan masjid.

“Ada apa di luar, Nak?” tanya sang imam kepada pemuda yang duduk persis di belakangnya, sesaat setelah menyelesaikan doanya.

“Bah, orang-orang kayaknya marah besar sama Abah,” salah satu jamaah yang menjawab dengan nada antara takut dan menyalahkan.

“Iya Bah, gimana ini? mereka pada bawa senjata, Bah,” sahut yang lain.

Sang imam hanya tersenyum. “Bantu aku berdiri, Nak. Sepertinya ini hanya salah paham.”

“Iya, Bah.” Pemuda itu pun dengan hati-hati menuntun sang imam berjalan laun keluar masjid di ikuti para jamaah lain yang berjalan rapat-rapat satu dengan yang lainnya dengan mulut yang terus komat-kamit membaca doa apa saja yang mereka hafal.

“Akhirnya kau keluar juga kakek tua!”

“Sudah! Tebas saja lehernya sekarang juga, iblis seperti dia pantas mati!”

“Iya! Tunggu apalagi, Jon! Matikan saja langsung!”

Jon yang berada paling depan ternyata yang mengetuai, matanya merah, penuh kebencian. Ia tidak terima adik perempuan satu-satunya menjadi seorang mualaf dan biangkeladinya tidak lain lelaki tua berjanggut putih yang kini ada di hadapannya.

“Hei, hati-hati kalian jika biacara! Ini negara hukum!” sang pemuda yang membela.

Orang bertato naga di leher dengan sekepal batu besar di kedua tangannya menyahuti, “Alah, persetan dengan hukum! Kami tidak takut hukum di negara ini!!”

“Jon! Kau tunggu apalagi!”

Yang di elu-elukan masih terdiam, menatap sang imam dengan napas yang memburu.

“Kalau memang kalian itu merasa hebat! Lawan aku tanpa senjata!” sahut sang pemuda tak mau kalah.

“Wah wah wah … ada yang merasa jadi pahlawan nih,” kata seseorang di belakang Jon, memegang celurit.

Sang imam menoleh kepada pemuda di sampingnya. “Sudah, Nak. Biarkan saja, ini hanya salah paham.”

“Tapi, Bah-“

“Sudah, biar abah saja,” kata sang imam memotong, lantas mengitarkan pandangannya menatap Jon yang sudah meruncingkan kedua alisnya. “Aku ini sudah tua, hanya tinggal menunggu waktu saja Allah memanggilku. Kalian tak perlu repot-repot mengotori tangan hanya untuk lelaki tua sepertiku.”

“Alah … banyak khutbah kau! Jon, kenapa kau diam saja, hah! Habisi cecunguk tua di depanmu itu!”

Jon masih tergugu dengan tangan gemetar, entah karena rasa kesal yang sudah mencapai puncaknya atau karena ada keseganan melihat lelaki tua di hadapannya seakan tidak merasa takut sedikit pun.

“Kau penghasut!” kutuk Jon yang akhirnya bersuara.

“Siapa yang kau maksud, Nak, aku?”

“Ya, kau! Kau menghasut adikku agar mau menyembah Tuhanmu itu!”

“Hei, adikmu yang datang ke sini dia yang minta masuk Islam!” suara dari salah satu jamaah di belakang imam, entah yang mana, semuanya saling menoleh.

“Omong kosong! Adikku tidak mungkin mau, jika bukan karena hasutan bajingan tua itu! Kalian semua sama saja, merasa agama kalian paling benar, persetan dengan semuanya!” Jon mengeluarkan semua kekesalannya.

Sang imam hanya tersenyum. “Kau salah, Nak. Islam bukan agama yang paling benar, tapi Islam itu agama yang benar, tidak ada yang benar lagi selain islam.”

“Itu penghinaan untuk agama kami orangtua!!”

“Aku hanya sebatas menyampaikan, Nak, tidak ada kewajibanku untuk memaksa oranglain masuk Islam. Adikmu yang tempo lalu meminta nasehat kepadaku.”

“Kau ingin mati cecunguk tua, berani-beraninya menyalahkan agama kami! Itu penghinaan!” sahut orang yang bertato naga.

“Iya, itu penghinaan! Jon, kenapa kau seperti banci, sudah habisi dia!” timpal yang lain.

“Kau salah, Nak, aku sama sekali tidak menghina apa yang kalian yakini.” Sang imam masih terlihat tenang. “Aku yakin kalian di lahirkan dari rahim seorang bapak, benar?” tambah sang imam.

“Ah banyak cincong kau orangtua! Jon, kenapa kau malah diam saja, apa perlu aku yang tebas kepalanya untukmu, hah!”

“Kau benar-benar gila!” kata Jon sambil mengeluarkan samurai dari sarungnnya. “Mana mungkin laki-laki memiliki rahim!”

“Ah, berarti kau menghinaku anak muda!” tiba-tiba sang imam menyentak, membuat orang-orang di hadapannya menatap keheranan, begitupun para jamaah.

“Kau menyalahkan keyakinanku anak muda, kau benar-benar sudah menghinaku!” kata sang imam lagi dengan nada yang lebih tinggi, yang lain makin terhenyak melihat kakek setua itu masih bisa meninggikan suaranya beberapa oktaf.

“Heh orangtua, sampai hari kiamat pun lelaki tidak mungkin memiliki rahim! Kau sudah gila!” pekik Jon, sambil mencoba mendekati sang imam dengan samurai yang begitu mengkilat.

“Ya, benar. Kau tak menghinaku. Kau hanya menyampaikan jika aku salah dalam meyakini sesuatu, sebagaimana aku tidak pernah menghina agama kalian, aku hanya meyampaikan kebenaran untuk sesuatu yang salah, dan itu bukan penghinaan.”

“Aaah! Banyak bacot kau!” Jon makin geram, sudah mengambil ancang-ancang dengan samurainya.

“Silakan, Nak. jika memang hari ini ajalku maka benar wasilahnya adalah samurai milikmu itu, tapi jika Allah belum mengizinkan maka sungguh samurai itu sedikit pun tidak akan mampu melukaiku.”

“MATI KAU!!” Jon siap menyabetkan samurainya.

“Allahu akbar!!” para jamaah bertakbir sambil menutup matanya. Sedangkan sang pemuda terus membaca ayat kursi dengan gemetar.

“Baaang!!”

Jon terhempas, jatuh tersungkur di antara kaki-kaki temannya.

“Apa maksudmu, Dek! Kau bosan hidup juga rupanya!”

“Apa hak Abang merasa terhina! Selama ini memangnya Abang sudah mematuhi keyakinan yang Abang yakini, hah!” pekik gadis berusia dua puluh tahun dengan jilbab putih.

“Hei, kau Fey! Jika kau bukan adik Jon, sudahku cing-cang kau jadi makanan anjing!”

“Silakan saja! Aku tidak takut mati! Harusnya kalian sadar diri, apa hak kalian untuk merasa terhina. Kalian ibadah saja tidak pernah, bisanya hanya mabuk, makan-makanan yang jelas-jelas tidak diperbolehkan oleh keyakinan kalian sendiri!”

Jon tertegun dengan sikap adiknya, perlahan bangkit dengan wajah yang penuh kekecewaan. “Kau lupa Fey, siapa yang sudah membesarkanmu sampai seperti ini, hah! Kau lupa!”

“Bang, aku tetap adik Abang! Aku hanya memilih apa yang menurut aku baik untuk hidup aku, Bang!”

“Aah, aku tak punya adik seperti kau!” kata Jong, sambil berlalu.

“Hei Jon! Gimana urusannya ini,” kata seseorang bertato naga.

“Awas kalian semua!”

Keributan pun mereda, satu per satu mulai mengikuti langkah Jon meninggalkan pelataran masjid dengan raut muka kebencian. Sedangkan para jamaah bisa bernapas lega, urat-urat yang menegang pun sudah mulai kendur perlahan. Hampir saja.

“Bagaimana jika nanti mereka kembali, Bah?” tanya sang pemuda.

Sang imam tersenyum, masih memandang segerombolan orang-orang yang tadi memenuhi dirinya dengan berbagai senjata. “Allah bersama orang-orang yang berjuang di jalan-Nya, Nak.” []

Nb : Ketika muslim menjadi mayoritas, mereka seakan menjadi sekelompok orang yang selalu melanggar hak agama lain. Tapi ketika muslim menjadi minoritas, mereka seakan menjadi sekelompok orang yang wajib di bumi hanguskan.

*Boss Dwi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s