UMAR USMAN 16 B

WE GO BIG OR GO HOME !

ENTREPRENEUR MINDSET

Leave a comment

 

Banyak orang beranggapan kalau jadi pengusaha itu enak. Kerja suka-suka, nggak diatur-atur sama atasan, dan punya kebebasan waktu. Bener sih, tapi dari semua cerita para pengusaha yang ane denger, termasuk Mas Danu Sofwan yang kali ini akan ane bahas—untuk mencapai di titik di mana kita bisa menikmati semuanya itu butuh perjuangan yang ektra keras.

Kalau di awal-awal usaha kita udah suka-suka dan terkesan lambat, kita bakal tertinggal jauh sama para kompetitor lain. Maka itu artinya, ketika memulai sebuah usaha dan kita mau usaha itu tumbuh berkembang, butuh kedua mata yang akan lebih banyak terjaga, butuh otak yang akan dipaksa bekerja lebih keras lagi, butuh kaki yang lebih kokoh lagi untuk tetap bisa melangkah, dan butuh doa yang lebih bersungguh-sungguh lagi. Karena jika semuanya dikerjakan dengan asal-asalan maka hasilnya pun akan asal-asalan, dan cuma cape yang nantinya kita dapet.

Oke, sesuai yang udah ane singgung tadi di awal. Kali ini ane akan ngebahas soal Mas Danu Sofwan, owner Randol alias Raja Cendol yang omsetnya sekarang udah miliaran dan otletnya tersebar di mana-mana hanya dalam jangka waktu beberapa tahun aja. Eits! Biasa aja kali matanya, baca omset miliaran sampe melotot gitu, hehe.

Pastinya kesuksesan Mas Danu ini nggak sekonyong-konyong bangun tidur, buka otlet terus langsung punya ratusan cabang gitu aja. Ada hal yang wajib dilewati Mas Danu dan tentunya juga wajib dilewati semua orang yang ingin menjadi seperti beliau. Apa itu? Apa hayo? Hayo apa? Yups …. Proses. Semua orang yang ingin mencapai titik kesuksesannya entah itu dengan menjadi seorang wirausahawan, karyawan, atlet, seniman, dan apa pun itu—wajib melewati satu fase di mana mereka wajib melewatinya, yaitu proses. Seperti yang pernah Mas Danu bilang, setiap profesi memiliki pola kesuksesan yang sama, yaitu : bekerja keras, berjuang, dan berkorban.

Mas Danu ini lahir dari keluarga yang kaya raya, ayahnya seorang kontraktor, ibunya punya butik, dan katanya sejak kecil beliau ini sudah dikasih fasilitas yang wah banget. Gimana nggak wah, orang SMP aja udah dikasih mobil. Terus timbul pemikiran, yah wajar aja sukses—orang bapak sama ibunya kaya raya gitu. Tunggu dulu. Tahun 2005 ayahnya Mas Danu mengalami kebangkrutan, dua tahun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia plus ninggalin banyak hutang. Butik ibunya juga bangkrut karena penghasilan dari butik itu habis buat bayar hutang. Semuanya habis. Mas Danu bilang, uang yang tersisa cuma uang ta’ziah dari para pelayat yang datang pas ayahnya meninggal. “Drama banget, ya?” kata Mas Danu, pas nyeritain itu semua.

Disaat itulah Mas Danu sebagai anak lelaki juga anak pertama merasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya. Ya, motivasi terbesarnya adalah keluarga. Berbagai macam usaha dilakoni Mas Danu dari uang ta’ziah itu. Salah satunya usaha sepatu yang dirasa bakal menghasikan banyak pundi-pundi uang malah berakhir pahit. Mas Danu ditipu, uangnya dibawa kabur. Mungkin pepatah yang tepat buat beliau saat itu adalah sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Di situlah titik di mana Mas Danu harus memilih: mengikuti arus dan jatuh, atau bangkit. Dan memang kesuksesan itu hanya bagi orang-orang yang pantang menyerah. Mas Danu memilih bangkit, memulai semuanya dari nol. Ngamen, dan kuli pasir pekerjaan yang kemuadian beliau geluti, yang hasilnya ditabung buat satu produk yang akhirnya booming. Apa itu? Ya, Randol alias Raja Cendol. Dan saat tulisan ini dibuat, beliau udah punya ratusan otlet.

Mas Danu nyeritain semuanya dengan gaya anak muda yang menyenangkan. Nggak ngebosenin. Banyak banget pelajaran yang ane dapet. Tapi dari semua pemateri yang ada selama masa martikulasi, intinya cuma satu, follow your passion. Itu pun yang akhirnya disampaikan oleh Mas Danu. Kerjakan apa yang kita sukai, karena ketika kita mengerjakan yang nggak kita suka walaupun itu menghasilkan lebih banyak pundi-pundi uang. Ujung-ujungnya cuma akan melahirkan keluh kesah.

Sebelum ane mengakhiri tulisan ini, ada beberapa tips nih dari Mas Danu Sofwan ketika kita mau menetukan usaha apa yang bakal kita pilih.

Produk :
1. Pastikan produk yang kita miliki beda dari yang lain, dalam artian akan lebih sedikit pesaingnya.
2. Keunikan yang ditawarkan produk.
3. Ada tujuan yang diselipkan dari produk yang akan kita jual.

People :
1. Pelatihan
2. Sopan satun, karena hampir 80% terjadinya closing karena si pembeli menyukai si penjualnya.

Tempat :
1. Perhatikan kapan dan jam berapa lokasi tersebut sepi.
2. Daya beli masyarakat.
3. Pesaing dan competitor
4. Dan tempat yang baik adalah di samping usaha lain yang sudah ramai.

Harga :
1. Sesuaikan kondisi pasar.

Promosi :
1. Mengadakan lomba yang berkaitan dengan produk kita.
2. Membuat merchandise, kaos, pulpen dll.
3. Membuat promo menarik.

Dan akhirnya kita sampai di penghujung tulisan ini, semoga apa yang ane tulis kali ini bermanfaat, setidaknya buat ane pribadi. Jadi penyemangat bahwa janji Allah itu emang bener. Kalau Allah belum ngabulin doa-doa kita mungkin karena usaha kitanya juga yang belum maksimal, dan level keyakinan kita pas berdoa mesti ditinggatkan lagi. YAKIN!

Terima kasih.
Salam sukses dari Dwi Bagus CMM (Calon Muslim Milioner)/ Boss Dwi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s