UMAR USMAN 16 B

WE GO BIG OR GO HOME !

Bos Ine’s Dreamsbook

2 Comments

Penulis : Ine Rahayu Kusumah Dewi (Bos Ine)

Hi Namaku Ine Rahayu Kusumah Dewi nama yang anggun bukan? Tak mungkin tanpa sebuah alasan ayahku memberi nama itu,  Campuran inspirasi dari beberapa kepala. Entahlah arti persis dari namaku itu apa tapi aku yakin ini adalah do’a teristimewa dari mereka yang teramat menyayangiku.

Perkenalkan ini aku, gadis asli Majalengka yang kini sedang berusaha menguji nyali untuk kesekian kalinya. Sering sebenarnya aku bertarung, sesekali bahkan berapa kali di berbagai lapangan salahsatu nya di tatami atau matras dalam  pertandingan karate, pernah di koridor sekolah membawa gorengan dr kelas kekelas lainnya, pernah dialam bebas melawan lelah, pernah juga sebagai bagian dari organisasi2 yang aku ikuti. Semuanya adalah hal baru yang selalu aku ingin coba. Aku bertarung mengalahkan egoku, maluku, minderku, malasku, angkuhku dan mengalahkan diriku sendiri.

Menjadi bagian kecil dari sekumpulan hal besar memang kadang tak menyenangkan, tapi jika itu tak aku alami, sampai kapan aku akan terus sombong dengan keangkuhanku?. Aku patut belajar dan terus belajar demi menjadi pribadi yang  semakin baik.

18th sudah aku menjadi Ine, Ine yang seperti ini, Ine yg suka berpetualang, Ine yg suka mencoba hal-hal baru, Ine dengan segala kekurangan tp Allah tutupi kekuranganu dgn kelebihan.

Apa kelebihan ini patut menjadi kebangganku ? Jelas, bangga bagiku adalah wujud syukurku. Jelas tak ada yang sempurna seperti kata orang, lantas tak patutkah aku bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan walau semua ini jauh dari kata sempurna? Lantas apa definisi sempurna menurut kawan-kawan.

Juga, apakah kekurangku patut membuatku terpuruk? Jujur saja terkadang iya. Tapi apa hak “si kekurangan” berani merajai jiwaku? Tidak ada!

Tahun ini, aku masuki angka 18, yang bagian dari satu angkanya adalah angka sempurna kata orang-orang disana dan satu lainnya adalah angka pembuka, sempurna.

1-8-Jakarta, New Chapter in my life is begining

“I’m not a Girl, Not yet a Women” begitulah aku sekarang. Bukan lagi abg yang masih boleh alay-alay.an tapi belom lagi terlalu siap menjadi “wanita” seperti mereka di luar sana.

1 langkah pertama telah ku ayunkan menuju kota metropolitan. Dimana semua gelembung-gelembung mimpi seolah berebut mencapai awan. Bukan hanya dari ribuan orang tapi jutaan bahkan mungkin puluhan juta orang.

Mampukah aku berjuang sendiri? Tentu tidak. Aku terlahirpun tak sendiri, diasana ada ibu yang berusaha melahirkanku, ada bidan yang membantu persalinan, ada ayah yg tak henti berdo’a dan ada keluarga yang siap menyambutku dengan gembira. Bgitupun sekarang, ada ragaku yang siap bertempur, ada “umar usman university” yang membantuku bertumbuh, ada ayahku yang tak henti mencari nafkah demi biaya sekolah, ada ibu yang tak menurunkan tangannya memohon pada sang pencipta, dan ada saudara, kawan, sahabat dan semua yg mencintaiku membantuku dalam do’a.

Ketika itu aku lahir, apakah aku tertawa? Tidak…aku menangis dan mereka yang kegirangan. Padahal sejatinya aku yang diundang dan aku yang kegirangan telah berada di dunia yang kata orang2 indah ini.
Sekarang, kembali sejarah terulang dan aku akan memaknainya. Aku hanya tinggal mengulang kebiasaan lama, menangis, merasa belum bisa berbuat apa-apa dan selalu harus dibantu.

Dan dari tangga pertama ini aku akan merangkak penuh semangat

8 Angka yg tak pernah putus, begitu juga dengan semangtku. Membumbung tinggi, merajai raga tapi tetap aku kendalikan dengan hati.

Disini, Allah adalah tujuanku, dan apa yang dicintai-Nya adalah tujuan cintaku. Ayah, ibu, keluarga adalah pinjaman Allah maha spesial untukku. Berada ditengah-tengah mereka adalah anugrah.

Ya Anugrah buatku tak cukup dijaga tapi harus dirawat, disenangkan layaknya aku merawat dan menyenangkan diriku sendiri bahkan lebih dari itu.

Innamal a’malu binniat. 2016 gak ada yang gratis bro, terus untuk merawat dan menyenangkan si anugrah apa kabar?

Jelas jawabannya tak lain adalah Rupiah. Apa ini obsesi dunia semata? Aku harap tidak. Kata sahabat pekerjaan dunia bisa menjadi ladang akhirat dan sebaliknya, tergantung pada niat. Aku niatkan : menjadi pengusaha sukses di usia super muda, mempunyai peternakan super luas, mempunyai branding alat2 outdoor, memiliki tempat wisata + tour guide wisata indonesia, memiliki vila di pegunumgan dan seabreg cita2ku yg lain aku niatkan untuk memmbahagiakan mereka yang kusayangi.

Berbicara tentang semua mimpiku tak lain karena hobby dan mimpiku untuk kotaku untuk negeriku, Aku hidup di tanah yang lokasinya saja kebanyakan tak dikenal orang. Majalengka, yah disini…bukan bermaksud mengecilkan atau tak menghrgai tanah leluhur, tapi kenyataannya terlalu nyata dan mengerikan terutama bagi kami penggila ketinggian.

Naik gunung dengan fasilitas sedanya tak mengapa, tapi jelas nyawa taruhannya. Kelelahan, hypotermia, dehidrasi dan bahaya2 lainnya adalah ancaman nyata bagi kami. Sementara keinginan menggebu namun fasilitas tak sejalan. Penjualan alat2 outdoor apalagi penyewaan masih sangat asing disini. Cirebon adalah jalan keluarnya yang tak jarang membuat kami urug mendaki. Lantas apa kurangnya majalengka sebenarnya?, Katanya akan menjadi kota metropolitan, bandara international, tol terpanjang, kota agrowisata dan lainnya.
Wisata alam yg sudah terkenal tak juga menjadikan pesat persaingan jasa penyedia alat2 outdoor. Berburu indofest, outdoorfest, preorder brand terkenal bahkan bran luar negeri masih jadi keterpaksaan kami demi satu kata “aman”.

Banyak carrier, sendal gunung, slingbag, bahkan celana gunung di pasaran, tapi jujur tak ada yg sesuai standar seperti brand2 husus seperi E, C, R, D dan teman2nya.

Gemas? Jelas…
Lantas hanya gemas? Aku harap tidak, aku harus bergerak, kalo bukan aku siapa lagi ? Aku sedikit banyak tahu medan pendakian, tahu kemungkinan iklim yg terjadi selama perjalanan, tahu apa saja yang kebanyakan dibutuhkan rekan2 sesama pendaki.

Aku hanya harus terus peka terhadap kebutuhan, perbanyak pengalaman, dan kenali setiap perkembangan di dunia pendakian.

Aku anak majalengka dan majalengka adalah bagian dari Indonesia. Aku ingin Indonesia lebih banyak menghasilkan karya dan aku ingin ambil bagiannya. Tentang semua mimpi ini tak lain semuannya hanya untuk ayah ibu serta tempat kelahiranku Tanah Sunda indonesia.

Ayah Ibu semoga jalan ine menjadi seorang pengusaha tangguh dan berakhlak mulia Ine bisa bawa ayah ibu keluarga menuju tanah suci , juga bisa keliling dunia menikmati setiap jengkal bumi Allah bersama kalian, dan ingin sekali menebus rumah warisan nenek yang sempat dijual, Ine akan membuat kalian sejahtera bersama ine dihari tua kalian. Tak hanya itu, Ine ingin sekali menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, beguna bagi sesama, ahli sodaqoh dan semakin menjadi hamban-Nya yg kaffah, menjadi Hafidzoh 30 adalah impian Ine, membuat Rumah untuk anak Yatim dan sekolah Alam berbasis islami dan do’a kalian adalah Ridha-Nya

Istajib du’ana Ya Rabb

Jakarta
Tak perlu lagi aku jabarkan terlalu lebar tentang nama ini. Semua orang sudah tahu kenapa setiap dari yang bernyawa berbondong2 ke kota ini. Dari jakarta aku berteriak….mimi, bapa, teteh, aa…tunggu ine pulang dengan semua kesuksesan Ine, Untuk merubah Majalengka untuk Indonesia dan indonesia untuk dunia karena Allah untuk Allah dan Dari Allah..

Bismillahirrohmanirrohim

Advertisements

2 thoughts on “Bos Ine’s Dreamsbook

  1. suka banget sama tulisan dan semangat ine 🙂

    terus melangkah ine, jangan takut, semoga Allah segera mengijabah doa-doa besar Ine.. tetap bermanfaat buat orang lain ine sayang..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s